Berbeda dengan Sate Mak Syukur di Padang Panjang, Sate Padang di warung kecil pinggir jalan ini menggunakan gagrak Pariaman, yang kuahnya agak kemerahan. Menurut Pak Bondan Winarno, warna kemerahan pada kuah sate pariaman didapat dari cabe yang membuatnya lebih menggigit. Rasanya, nikmat sekali man... Mungkin karena saya sudah ngidam sate padang sejak minginjakkan kaki di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tapi baru kesampean di hari ke-3 :) Walau hanya warung kecil pinggir jalan, tapi daging dan kuah sate yang disajikan benar2 luarr biasaa..
Esok harinya, rombongan peserta lain dari Kabupaten Solok, dipimpin oleh Mr. Muhammad, mengajak kami untuk menikmati salah satu kuliner yang banyak dikunjungi orang di Kota Padang yaitu Es Durian Ganti nan Lamo. Berbeda dengan Es Durian di Bandung, misalnya di Mie Akung atau di Mie Ayam di Tubagus Ismail, dimana durian disajikan masih dalam bentuk gelondongan, di sini es durian sudah berbentuk lumer. Disajikan dalam mangkok, pertama diisi dengan bubur pacar dan kelapa muda, kemudian es yang sudah diserut, di atasnya baru dibanjur lumeran durian dan dikasih susu coklat kental manis. Rasanya? Kalau anda ke Kota Padang, tempat ini WAJIB dikunjungi :) Tempatnya ada di sekitar jembatan Siti Nurbaya (sori lupa mencatat nama jalannya) Kita bisa menikmati es durian ini dengan berbagai menu lainnya seperti sate padang, gado-gado padang, pempek dan lain-lain. Di dinding warung ini dipajang foto-foto selebritis yang pernah berkunjung mulai dari Azwar Anas, Hetty Koes Endang, sampai artis2 sinetron masa kini.
